Warning: array_keys() [function.array-keys]: The first argument should be an array in /home/sloki/user/h57564/sites/pemudi.persis.or.id/www/wp-includes/widgets.php on line 1044
Gebyar Seni Budaya Pemuda dan Pemudi Persis | PP Pemudi Persatuan Islam

Gebyar Seni Budaya Pemuda dan Pemudi Persis

March 6th, 2008

Sebagai sebuah Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam, Persatuan Islam (Persis) dikenal “keras”, anti Tahayul, Bid’ah, dan Khurafat. Persis jarang “menyelipkan” unsur kearifan local (tradisi, seni, & budaya) suatu tempat sebagai sarana dakwahnya. Dominasi peran dan dakwah Persis lebih cenderung kepada permasalahan Fiqih. Karenanya, Persis pun dikenal sebagai ormas Qur’an Sunnah. Untuk mengikis citra tersebut, kaum muda Persis, dalam hal ini Pemuda dan Pemudi Persis, bekerjasama menyelenggarakan sebuah acara Gebyar Seni Budaya. Acara yang telah berlangsung pada minggu (20/1) menghadirkan talk show “Optimalisasi Seni Budaya sebagai Media Dakwah”.

Bertindak sebagai pembicara dalam acara tersebut, KH. Aceng Zakaria (Bidgar Dakwah PP Persis), Yudhi Latief, Ph.D (budayawan), Hawe Setiawan (Budayawan Sunda) dan Budhiana (Wapemred HU. Pikiran Rakyat). Selain talk show dihadirkan pula pagelaran seni dan budaya, antara lain, nasyid, pertunjukkan teater, dan wayang bobodoran, yang masing-masing diperankan oleh PC. Pemuda Persis dari kabupaten Bandung. Acara dibuka dengan pertunjukkan marching band santri Pesantern Persatuan Islam 31 – Banjaran, dan dimeriahkan oleh pameran dan bazaar. Acara juga diisi dengan launching Website PP Pemudi Persis, dengan alamat www.pemudipersis.or.id

Dalam materi talk show-nya, KH. Aceng Zakaria menyebutkan bahwa, sesungguhnya Persis mengapresiasi Seni dan Budaya. Hanya saja tidak semua unsur tersebut dimasukkan dalam setiap dakwah Persis. Ada batasan antara agama dan budaya. Sementara Hawe Setiawan mengaku akan menjadi orang yang pertama yang akan mendukung, jika Persis concern mengapresiasi masalah ini. Senada dengan para pembicara, Atip Latipul Hayat (salah seorang staf Persis) dalam tausiah penutupan acara mengatakan bahwa, seni dan budaya dapat dioptimalisasikan sebagai sarana dakwah, karena Persis memiliki kader di bidang itu, terutama dari kaum muda. Ustadz Atip juga mengatakan para pelaku seni (di sini) pun dapat dikatakan seorang da’I, karena ia ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar.  Lebih jauh, harapan beliau atas apresiasi yang tinggi dari Pemuda dan Pemudi Persis dalam hal Seni dan Budaya dapat mendukung program Visit Indonesia Year 2008.


9 Responses to “Gebyar Seni Budaya Pemuda dan Pemudi Persis”

  1. Seruni Seruni Says:

    Jangan sampai budaya yang mengarah kepada kemaksiatan bahkan kemusyrikan ditampilkan pada acara seperti ini

  2. Dani Hidayat Dani Hidayat Says:

    Yaa….jangan sampe.

  3. dida permana dida permana Says:

    - jangan menutup diri pada kesenian dan budaya, hal yang terpenting adalah mengarahkan kesenian dan budaya sebagai sarana dakwah. Banyak juga salah satu ikhwan kita dalam menyelenggarakan hajatan dengan menampilkan hiburan yang kurang islami…saatnya disini kita menampilkan alternatif hiburan yang islami. (nasyid salah satunya ) wassalam.

  4. Ryan Ryan Says:

    Untuk mengikis citra tersebut, kaum muda Persis, dalam hal ini Pemuda dan Pemudi Persis, bekerjasama menyelenggarakan sebuah acara Gebyar Seni Budaya. Acara yang telah berlangsung pada minggu (20/1) menghadirkan talk show “Optimalisasi Seni Budaya sebagai Media Dakwah”.

    Saya kira citra tersebut tidak perlu dikikis, bahkan harus dipupuk. Biarkanlah tetap unik.

  5. Seruni Seruni Says:

    Type your comment here.

  6. Seruni Seruni Says:

    Ass Wr Wb.Untuk menyemarakan acara, kami siap menampilkan Group Nasyid gratis, yang penting siapkan saja Sound Systemnya yang memadai

  7. andry andry Says:

    seni seperti pedang bermata dua.andai pintar menggunakannya, akan menjadi sarana dakwah efektif.Ini yang dilakukan para dai terdahulu diawal penyebaran islam, dan sedang ditiru para misionaris.

  8. Yayan Sopyani al-Hadi Yayan Sopyani al-Hadi Says:

    mudah-mudahan PERSIS semakin terbuka. tidak hanya fiqh oriented. dan harus memulai adalah Pemuda dan Pemudi…

  9. Agus.. Agus.. Says:

    “Untuk mengikis citra tersebut,” kalau citra bahwa persis keras terhadap thayul bid’ah dan sejenisnya mah perlu d perthankan…. adapun soal seni budaya, selama tidak melanggar syari’ah, kenapa tidak?

Leave a Reply